Senin, 05 Mei 2014

sistem kliring dan pemindahan dana elektronik di indonesia



1.      Prinsip kliring
Kliring (dari Bahasa Inggris “clearing”) sebagai suatu istilah dalam dunia perbankan dan keuangan menunjukkan suatu aktivitas yang berjalan sejak saat terjadinya kesepakatan untuk suatu transaksi hingga selesainya pelaksanaan kesepakatan tersebut. Kliring sangat dibutuhkan sebab kecepatan dalam dunia perdagangan jauh lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan guna melengkapi pelaksanaan asset transaksi. Klorong melibatkan manajemen dari paska perdagangan pra penyelesaian, ekposur kredit guan memastikan bahwa transaksi dagang terselesaikan sesuai dengan aturan pasar walaupun pembeli maupun penjual menjadi tidak mampu melaksanakan penyelesaian kesepakatannya. Proses kliring adalah termasuk pelaporan pemantauan marjin risiko netting transaksi dagang menjadi posisi tunggal, penanganan, perpajakan dan penanganan kegagalan.
Sistem kliring yang dilaksanakan BI saat ini sudah dapat berlangsung secara nasional melalui Sistem Kliring Nasional BI (SKNBI). Maksudnya, proses kliring baik kliring debet maupun kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional. Selain itu ada tiga sistem kliring lain yang lazim dikenal, yakni Sistem manual, Sistem Semi Otomasi, dan Sistem Otomasi. Kliring manual adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam perhitungan, pembuatan bilyet saldo kliring serta pemilihan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta kliring. Perhitungan kliring didasarkan pada warkat yang dikliringkan oleh peserta kliring.
Sedangkan sistem semi otomasi adalah kliring lokal yang perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dilakukan secara otomasi melalui alat bantu komputer. Namun pemilihan warkat tetap dilakukan secara manual oleh bank peserta kliring. Sementara sistem kliring lokal yang dalam perhitungan dan pembuatan bilyet saldo kliring dan pemilahan warkat dilakukan secara otomatis dengan bantuan komputer.

 Mekanisme proses kliring elektronik
Mempersiapkan warkat dan dokumen kliring meliputi pemisahan warkat menurut jenis transaksinya (warkat debet atau warkat kredit), pembubuhan stempel kliring dan pencantuman informasi MICR code line baik pada warkat maupun pada dokumen kliring.
Bank pengirim merekam data warkat kliring ke dalam sistem TPK dengan menggunakan mesin reader encoder atau meng-input data warkat untuk menghasilkan DKE.
Mengelompokkan warkat dalam batch kemudian menyusunnya dalam bundel warkat yang terdiri dari: BPWD/BPWK; Lembar Substitusi; Kartu Batch Warkat Debet/Kredit ; Warkat Debet/Kredit.
Mengirimkan batch DKE secara elektronik melalui JKD ke SPKE di penyelenggara. Fisik warkat dari DKE selanjutnya dikirim ke penyelenggara untuk dipilah berdasarkan bank tertuju secara otomasi dengan menggunakan mesin baca pilah berteknologi image.
 Peserta dapat melihat status DKE di TPK masingmasing, apakah pengiriman tersebut sukses atau gagal. SPKE akan memproses DKE yang diterima secara otomatis setelah batas waktu transmit DKE berakhir.
Selanjutnya SPKE akan mem-broadcast informasi hasil kliring kepada seluruh TPK sehingga peserta dapat secara on-line melihat posisi hasil kliring melalui TPK.
Hasil perhitungan DKE tersebut (Bilyet Saldo Kliring) selanjutnya dibukukan ke rekening giro masing-masing bank di sistem Bank Indonesia.

2.      INFORMASI PADA CEK DAN STRUKTUR KODE MIRC
 Di dalam chek code ini terdapat berbagai informasi yyang berkaitan dengan transaksi nasabah. Mulai dari Paye, Draw e, Draw bank, Drawer Account, Chek number, Amoun, Currency , Payee Bank Number, Payee account, Dat, Autorized signature of makers.
Penyelenggaraan kliring di Jakarta pada awalnya dilaksanakan secara manual. Namun dalam perkembangannya, sejalan dengan meningkatnya transaksi perekonomian nasional khususnya di Jakarta dimana pada akhir tahun 1989 volume warkat telah mencapai 82.052 lembar warkat perhari dengan jumlah bank peserta mencapai 613 bank. Hal ini menyebabkan penyelenggaraan kliring secara manual dirasakan tidak efektif dan efisien lagi dan suasana pertemuan kliring yang hiruk pikuk sering kali diibaratkan dengan suasana “pasar burung”.

Melihat kondisi tersebut, Direksi Bank Indonesia dengan SKBI No. 21/9/KEP/DIR tanggal 23 Mei 1988, kemudian menetapkan untuk mengubah sistem penyelenggaraan kliring lokal Jakarta dari sistem manual menjadi sistem otomasi kliring. Meskipun demikian baru pada tanggal 4 Juni 1990 sistem otomasi  dapat diimplementasikan untuk memproses kliring penyerahan. Sementara untuk proses kliring pengembalian tetap dilakukan secara manual, sampai kemudian pada tahun 1994 diganti dengan sistem semi otomasi yang kemudian dikenal dengan sebutan SOKL .

Pada tahun 1996 rata-rata volume warkat kliring Jakarta mencapai 216.911 lembar per hari, dengan pertumbuhahan rata-rata dalam tiga tahun sekitar 6%. Hal tersebut menyebabkan meningkatnya tekanan dalam kegiatan proses warkat kliring baik di bank peserta maupun di Bank Indonesia karena keterbatasan kemampuan sarana kliring yang ada dibandingkan dengan peningkatan jumlah warkat kliring. Pada gilirannya hambatan-hambatan tersebut menyebabkan terjadinya keterlambatan dalam settlement dan penyediaan informasi hasil kliring. Hal ini berpotensi mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap bank dan merugikan lembaga lain yang terkait serta menimbulkan efek negatif berantai (systemic risk)

Sehubungan dengan itu, sesuai acuan pokok pengembangan sistem pembayaran nasional (Blue Print Sistem Pembayaran Nasional Bank Indonesia;1995) yang antara lain memuat visi, kerangka kebijakan dan langkah-langkah yang perlu dikembangkan dalam menciptakan sistem pembayaran nasional yang lebih efektif, efisien, handal dan aman, maka pada tahun 1996 konsep penyelenggaraan kliring lokal secara elektronik dengan teknologi image mulai dikembangkan oleh Urusan Akunting dan Sistem Pembayaran Bank Indonesia. Pada tanggal 18 September 1998, Bank Indonesia mencatat sejarah baru dalam bidang sistem pembayaran dimana untuk pertama kalinya di Indonesia diresmikan penggunaan Sistem Kliring Elektronik (SKE) oleh Gubernur Bank Indonesia, DR. Syahril Sabirin. Penerapan SKE tersebut dilakukan pada Penyelenggaraan Klring Lokal Jakarta dimana pada awal implementasi, jumlah peserta yang ikut serta masih terbatas 7 bank peserta kliring (BRI, BDN, BII, BCA, Deutsche Bank, Standard Chartered, Citibank) dan 2 peserta intern dari Bank Indonesia (Bagian Akunting Thamrin dan Bagian Akunting Kota). Keikutsertaan kantor-kantor bank dalam Kliring Elektronik dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan teknis masing-masing peserta. Bagi kantorkantor bank yang belum menjadi anggota Kliring Elektronik, perhitungan kliring tetap menggunakan sistem kliring otomasi. Implementasi Kliring Elektronik secara menyeluruh kepada seluruh peserta kliring di Jakarta baru dilaksanakan pada tanggal 18 Juni 2001.

·         Warkat
Warkat merupakan alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan melalui kliring. Jenis warkat yang dapat diperhitungkan dalam kliring adalah :
1.    Cek;
2.    Bilyet Giro;
3.    Wesel Bank Untuk Transfer;
4.    Surat Bukti Penerimaan Transfer;
5.    Nota Debet; dan
6.    Nota Kredit.

·         Dokumen Kliring
Dokumen kliring merupakan dokumen kontrol dan berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring yang terdiri dari :
1.      Bukti Penyerahan Warkat Debet – Kliring Penyerahan (BPWD).
2.      Bukti Penyerahan Warkat Kredit – Kliring Penyerahan (BPWK).
3.      Kartu Batch Warkat Debet.
4.      Kartu Batch warkat Kredit.
5.      Lembar Subsitusi.

3.      SISTEM KLIRING ELEKTRONIK DI INDONESIA
Setiap warkat dan dokumen kliring yang digunakan wajib memenuhi spesifikasi teknis yang ditetapkan Bank Indonesia antara lain meliputi kualitas kertas, ukuran, dan rancang bangun. Setiap pembuatan dan pencetakan warkat dan dokumen kliring untuk pertama kali dan atau perubahannya oleh peserta wajib memperoleh persetujuan secara tertulis dari Bank Indonesia Dalam Kliring Elektronik, agar data pada warkat dan dokumen kliring dapat dibaca oleh mesin baca pilah yang ada di Penyelenggara maka warkat dan dokumen kliring tersebut wajib dicantumkan Magnetic Ink Character Recognition (MICR) code line. MICR adalah tinta magnetic khusus yang dicantumkan pada clear band yang merupakan informasi dalam bentuk angka dan symbol.
·         Penyelenggara Kliring
Siklus Kliring Nominal Besar, terdiri dari :
1.      Kliring Penyerahan Nominal Besar.
2.      Kliring Pengembalian Nominal Besar Kedua kegiatan kliring tersebut dilakukan pada hari yang sama.
·         Siklus Kliring Ritel, terdiri dari :
o   Kliring Penyerahan Ritel.
o   Kliring Pengembalian Ritel Kedua kegiatan kliring tersebut dilakukan pada tanggal yang berbeda yaitu kegiatan kliring pada huruf b dilakukan pada hari kerja berikutnya setelah kegiatan kliring pada huruf a dilaksanakan.

4.      BANK INDONESIA REAL TIME GROSS SETTLEMENT (BI-RTGS)
Untuk mendukung efektifitas implementasi kebijakan moneter dan untuk mempercepat pemulihan industri perbankan, kebijakan system pembayaran akan diarahkan untuk mempercepat pengembangan dan implementasi suatu system pembayaran yang efisien, akurat, aman, dan konsisten melalui peningkatan kualitas layanan. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah melalui implemnetasi Real Time Gross Settlement System (BI-RTGS) yang sudah dimulai sejak 17 November tahun 2000 di  Jakarta. Tujuan RTGS:
1.      Memberikan pelayanan sistem transfer dana antar peserta, antar nasabah peserta dan pihak lainnya secara cepat, aman, dan efisien.
2.      Memberikan kepastian pembayaran.
3.      Memperlancar aliran pembayaran (payment flows).
4.      Mengurangi resiko settlement baik bagi peserta maupun nasabah peserta (systemic risk).
5.      Meningkatkan efektifitas pengelolaan dana (management fund) bagi peserta melalui sentralisasi rekening giro.
6.      Memberikan informasi yang mendukung kebijakan moneter dan early warning system bagi pengawasan bank.
7.      Meningkatkan efisiensi pasar uang.




Sumber: http://wahyudirm.wordpress.com/2013/06/28/8-sistem-kliring-dan-pemindahan-dana-elektronik-di-indonesia

Minggu, 03 November 2013

Rangkuman Bab 1-4



Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sebuah sistem informasi yang menangani segala sesuatu yang berkenaan dengan Akuntansi. Akuntansi sendiri sebenarnya adalah sebuah sistem informasi. Fungsi penting yang dibentuk SIA pada sebuah organisasi antara lain :
Mengumpulkan dan menyimpan data tentang aktivitas dan transaksi.
Memproses data menjadi into informasi yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Melakukan kontrol secara tepat terhadap aset organisasi.

Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen memproses berbagai transaksi non-keuangan yang tidak bisa diproses oleh SIA biasa. tapi bagaimana juga sistem juga di lakukan dengan kerja bersama time...dengan mendukung semua ide dari masing2 group yang melakukan kerja dilapangan.....dan bagaimana kita memberikan semangat yang tinggi buat karyawan....perusahaan

Cara Kerja
Untuk memahami bagaimana SIA bekerja, perlu untuk menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut :
Bagaimana mengoleksi data yang berkaitan dengan aktivitas dan transaksi organisasi?
Bagaimana mentransformasi data kedalam informasi sehingga manajemen dapat menggunakan untuk menjalankan organisasi?
Bagaimana menjamin ketersediaan, keandalan, keakuratan informasi ?

Manfaat
Sebuah SIA menambah nilai dengan cara:
Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
·         Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
·         Meningkatkan efisiensi
·         Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
·         Meningkatkan sharing knowledge
·         menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan
siklus transaksi melibatkan beberapa kejadian dan ada tiga siklus transaksi utama :

·         Siklus pemerolehan sebagai proses pembelian dan pembayaran untuk barang,jasa.
·         Siklus konversi proses mengubah sumber daya menjadi barang dan jasa
·         Siklus pendapatan proses penyediaan banrang dan jasa untuk para pelanggan.
Sistem informasi akutansi  dapat di pandang sebagai SIM (sistem informasi manajemen) yang memiliki pengertian sebagai suatu sistem yang menangkap data tentang satu organisasi,
memyimpan data,dan menyediakan informasi yang berguna bagi manjemen.
Proses bisnis organisasi pada SIM saling berkaitan erat ,SIM menangkap data dan data di kumpulkan  serta di organisasikan untuk menghasilkan informasi dan dapat mengendalikan bisnisnya.
Kini pembahasan lebih lanjut  tentang lingkup sistem informasi.

PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI AKUTANSI
Bagian ini memberikan lima macam penggunaan informasi akutansi dan apa saja yang dikerjakan SIA seperti:

MEMBUAT LAPORAN EKSTERNAL
Perusahaan menggunakan sistem informasi akutansi untuk memenuhi kebutuhan informasi dari para investor,pemerintah,dan lainnya serta untuk menghasilkan laporan-laporan khusus yang mencakup laporan keuangan,pajak,dan yang dioerlukan badan badan pemerintah.
Banyak paket peranti lunak yang mendukung fungsi-fungsi  rutin seperti scanner untuk memindai kode produk,meningkatkan aktivitas rutin dari proses bisnis.

MENDUKUNG PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Informasi diperlukan juga untuk pengambilan keputusan pada semua tingkat dari suatu organisasi,informasi ini sangat penting untuk merencanakan produ baru dan memasarkan kepada para pelanggan permintaan informasi nonstandar memerlukan permintaan informasi (query)  yang fleksibel dalam suatu basis data (basis data)

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN
Suatu sistem informasi sangat diperlukan untuk segala aktivitas perencanaan dan sangat penting untuk pengendalian dengan lebih terperinci .

MENERAPKAN PENGENDALIAN INTERNAL
Pengendalian internal mencakup prosedur dan kebijakan untuk melindungi aset aset perusahaan  serta memelihara ke akuratan data keuangan.

PERAN AKUNTAN DALAM HUBUNGAN NYA DENGAN SIA
Ada empat peran akuntan menggunakan teknologi informasi :
·         akuntan sebagai pengguna
·         akuntan sebagai manajer
·         akuntan sebagai konsultan
·         akuntan sebagai elevator

Hubungan antara SIA dengan pekerjaan yang dilakukan oleh para akuntan sudah di bahas , akuntan perlu meningkatkan keterampilan dan mendalami pengetahuan mereka tentang teknologi informasi secara berkesinambungan
Sebuah Sistem Informasi Akuntansi menambah nilai dengan cara:
·         Menyediakan informasi yang akurat dan tepat waktu sehingga dapat melakukan aktivitas utama pada value chain secara efektif dan efisien.
·         Meningkatkan kualitas dan mengurangi biaya produk dan jasa yang dihasilkan
·         Meningkatkan efisiensi
·         Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan
·         Meningkatkan sharing knowledge
·         Menambah efisiensi kerja pada bagian keuangan
2 komponen Sistem Informasi Akuntansi antara lain :
·         Spesialis Informasi
·         Akuntan
Contoh Sistem Informasi Akuntansi sebagai pusat informasi perusahaan:
·         Bagian pemasaran mempertimbangkan untuk memperkenalkan jenis produk baru dalam jajaran produksi perusahaan, untuk itu bagian tersebut meminta laporan analisa perkiraan keuntungan yang dapat diperoleh dari usulan produk baru tersebut
·         Bagian SIA memproyeksikan perkiraan biaya dan perkiraan pendapatan yang berhubungan dengan produk tersebut, kemudian data yang diperoleh diproses oleh EDP. Setelah diproses hasilnya dikembalikan ke bagian SIA untuk kemudian diberikan ke bagian pemasaran.
Kedua bagian akan merundingkan hasil analisa tersebut untuk dicari keputusan yang sesuai.
Dari contoh diatas dapat ditemukan 2 aspek yang berhubungan dengan sistem bisnis modern yaitu :
·         Pentingnya komunikasi antar departemen yang mengarah untuk tercapainya suatu keputusan.
·         Peranan SIA dalam menghasilkan informasi yang dapat membantu departemen lainnya untuk mengambil keputusan.
·         Informasi Akuntansi yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi dibedakan menjadi 2,
yaitu :
1.      Informasi Akuntansi keuangan, berbentuk laporan keuangan yang ditujukan kepada pihak extern.
2.      Informasi Akuntansi Manajemen, berguna bagi manajemen dalam pengambilan keputusan.
Sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal di mana data dikumpulkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan ke para pengguna.


 Bab 2

PROSES BISNIS DAN DATA
Sistem akutansi bersifat kompleks dan banyak keahlian perlu untuk menevaluasi SIA ,mereka juga perlu mengetahui informasi yang harus di cari,dimana mereka harus mendapatkan informasi,mengembangkan rencana,menyusun informasi dengan penuh arti.

ARSIP DALAM SIA YANG TERKOMPUTERISASI
Terdapat konsep konsp file
1.      Entitas    
2.      Field
3.      Record
4.      File
5.      Transaction file
6.      Master file
7.      Reference data
8.      Reference field
9.      Summary data
10.  Summary field
Informasi tentang desain file dapat dikumpulkan dari berbagai macam sumber termasuk dokumentasi sisten.

JENIS FILE DAN DATA
Dua jenis file data adalah file induk dan file transaksi,dalam mempelajari SIA seseotang perlu memperhatikan file induk dan file transaksi yang mendukung proses bisnis tersebut,
Para akuntan yang mengambil bagisan di dalam proses perancangan perlu memahami jenis jenis file seperti :
1.      FILE INDUK
Memiliki cirin :
·         Menyimpan data yang relatif permanen
·         Data yang disimpan dapat memiliki karekteristik sebagai data acuan

2.      FILE TRANSAkSI
Memiliki ciri :
·         Menyimpan data tentang kejadian
·         Mencakup field untuk tanggal transaksi
·         Mencakup informasi kuantutas dan harga


Bab 3

OVERVIEw ACTIVITY DIAGRAM DAN DIAGRAM DETAIL ACTIVITY
·         Overview diagram menyajikan suatu pandangan tingkat tinggi dari proses bisnis dengan mendokumentasikan kejadian penting.
·         Detail diagram  menyediakan suatu penyajian yang lebih detaildari aktivitas yang berhubungan dengan satu atau dua kejadian.

ILUSTRASI LANGKAH LANGKAH PENDAHULUAN
3.      Membaca narasi  dan mengendifikasi kejadian penting
4.      Membubuhi keterangan pada narasi agar lebih jelas menunjukan batasan kejadian
5.      Menunjukkan agen yang terlibat
6.      Membuat diagram untuk masing-masing kejadian
7.      Menggambar dokumen yang di buat buat dan digunakan didalam proses bisnis
8.      Menggambarkan tabel (file) yang di buat dan digunakan didalam proses bisnis

Bab 4

MENGIDENTIFIKASI RESIKO DAN PENGENDALIAN DALAM PROSES’
Pengendalian internal adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dean direksi entitas,manajemen yang di rancang untuk memberikan kepastian yang terkait dengan pencapaian sasaran.
Pemahaman yang baik penting bagi akuntan yang berperan sebagai manajer,
pengguna,perancang, dan elevator sistem informai.
SASARAN PENGENDALIAN INTERNAL
Pemangku kepentingan yang berbeda (pemegang saham, manajemen,pelanggan,dan karyaan) mungkin memiliki tujuan yang berbeda.
Pemegang saham utamanya mungkin berhubungan dengan tujuan yang berkaitan dengan nilai saham.
Manajer pemasaran paling tertarik dengan yang berkaitan dengan penjualan dan kepuasaan pelanggan. Sasaran pengendalian internal nyang disebutkan di laporaan pengendalian internal _ kerangka kerja terintegrasi  COSO (committe of sponsoring organization)mencakup efektivitas dan efisiensi operasi dan keandalan pelapor keuangan.

PENENTUAN RESIKO PELAKSANAAN : SIKLUS PENDAPATAN
Resiko pelaksanaan yang umum untuk dua transaksi siklus pendapatan adalah sebagai berikut:
1.      Penyerahan barang dan jasa di perbolehkannya penjualan atau layanan jasa yang tidak terotorisasi,jenis    barang atau jasa salah, kuantitas atau kualitas salah, pelanggan atau alamat salah
2.      Penerimaan kas,kas tidak terima atau terlambat diterima,jumlah kas yang diterima Salah

PENELAAH KINERJA
Penelaah kinerja mengukur kinerja dengan membandingkan data aktual dengan anggaran,proyeksi.
Penelaah kinerja meliputi analisis data,identifikasi masalah,prngambilan tindakan perbaikan.
Sistem informasi perusahaan,dan gterutama mungkin sistem informasi akutansi harus di rancang untuk mencatat dan menyimpan informasi mengenai standar dan hasil hasil aktual sehingga menejer dapat menentukan seberapa jauh perusahaan mencapai sasarannya.
Laporan harus di rancang sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil dengan penuh arti.